27
Jan
09

Enam Mitos tentang Open Source

Disarikan oleh Zaien Aji Trahutomo (zaien.aji@gmail.com) berdasarkan tulisan Emma McGrattan, SPV of Engineering, Ingres (www.ingres.com)

Pada setiap permainan poker, akan datang moment of the truth yang menjadi titik kemenangan. Sementara yang lain menemui apa yang disebut dengan bluff sebagai tanda kekalahan. Semua pemain akan meletakkan tangannya dan seorang pemenang akan ditentukan berdasarkan kartu yang mereka pegang.

Kita dapat mengibaratkan bluff bagai vendor program dengan kode tertutup (closed-source). Mereka telah lama memiliki gambaran bahwa open source dengan kode terbuka adalah solusi IT yang hanya diperuntukkan bagi ruang-ruang kosong yang sempit, yang tidak dapat menjalankan suatu fungsi kritis, dan yang prosedur update-nya tidak memiliki aturan. Sehingga, open source diidentikkan dengan solusi yang tidak berskala enterprise dan tidak teruji kenadalannya. Ini adalah saat yang tepat untuk memberi tahu bahwa apakah sebenarnya aplikasi open source itu.

1. open source merupakan solusi IT kelas 2

Mungin ini adil ketika Linux dan Apache dalam masa infasi, tetapi sekarang open source hadir didalam perusahaan yang mengoperasikan pusat data (data center), dan ini merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri.

2. aplikasi open source tidak dapat menjalankan aplikasi kritis

Banyak lawan open source menghembuskan isu bahwa open source tidak cukup handal untuk menjalankan aplikasi kritis (penting), dan kualitas produk open source yang rendah. Saat ini project open source ditujukan untuk tingkat performa, tekanan, fungsional, keamanan, dan uji regresi yang sama dengan aplikasi closed source. Disamping itu, suatu keuntungan tersendiri bahwa model pengembangan open source yang memungkinkan kolaborasi dengan end user sangat mempersingkat waktu pengembangan, memungkinkan bug dan kesalahan desain dideteksi lebih cepat.

3. perusahaan open source tidak memiliki hak kekayaan intelektual

Ini adalah kejadian salah paham mengenai konsep open source. Open source memiliki perlakuan hukum yang sama dengan closed source. Tetapi, open source dapat dimiliki oleh orang lain. Hasilnya, open source masuk ke pasar lebih cepat. Open source tidak dapat dimonopoli. Tidak satu pun perusahaan yang dapat mengatur berapa harga yang dikenakan untuk dukungan teknis pada solusi open source, menjadikan open source dipasarkan pada tingkat harga yang kompetitif, yang tentu saja cost effective bagi anda.

4. open source tidak menawarkan dukungan profesional

Hari ini, open source disajikan dengan dukungan teknis yang profesional. Memungkinkan untuk dijalankan pada perusahaan global, dijalankan pada aplikasi kritis, dan model bisnis yang dibuat pada aplikasi open source dibuat sesuai dengan permintaan pelanggan.

5. open source tidak memiliki regulasi dan semua orang dapat menyumbang kode program

Beberapa lawan open source menghembuskan isu bahwa open source dapat diakses semua orang, dan semua orang dapat menyumbangkan kode, sehingga aplikasi open source tidak aman. Kenyataanya, software open source dikembangkan dengan kontrol penuh. Setiap project open source diketuai seorang project leader yang akan menentukan keabsahan perubahan atas setiap sumbangan kode yang masuk.

6. aplikasi open source tidak aman

Kesalahpahaman yang umum terjadi bahwa aplikasi open source tidak aman lebih condong dikarenakan open source dapat diubah atau di-hack oleh banyak orang, sehingga kode yang ada pada aplikasi open source menjadi tidak aman. Kenyataan menunjukkan, kode open source yang dapat diubah menyebabkan banyak orang dapat me-review setiap kode yang muncul. Dengan, demikian proses evaluasi menjadi lebih dalam dan cepat. Selain itu, aplikasi open source dikembangkan dengan standar khusus yang diterima umum. Disamping itu, proses review yang panjang harus dilewati untuk menjamin kode yang diterima merupakan kode yang aman. Ini memungkinkan aplikasi open source menjadi lebih aman.

Rangkuman

Pasar open source kini tumbuh melesat diluar perkiraan. Open source merupakan pilihan yang layak dipertimbangkan baik untuk industri kecil menengah (UKM) maupun industri besar, dan hal ini juga diwujudkan dari lini bawah penyedia aplikasi closed source.

Apa yang menjadi kelemahan closed source telah diidentifikasi dan menjadi agenda utama gerakan open source. Open source merupakan kolaborasi bertahun-tahun antara pengembang dan end user, melibatkan end user dalam setiap pengembangan, dan menyajikan dukungan superior untuk end user. Ini merupakan suatu model bisnis yang sama sekali berbeda.

download PDF


0 Responses to “Enam Mitos tentang Open Source”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: